RSS

AdaKah OranG Mengerti…?

12 Mei
Roh turun padamu dari tempat tertinggi,
meluncur dengan kekuatannya dan sulit terhampiri.
 

Dia tertutup dari pandangan mata orang,
yang melihatnya,
dia pergi tanpa berselubung.
 

Dia mendatangimu dengan terpaksa
kadang-kadang ia benci memisahkanmu,
dia merasa bersakit hati.
 

Dia tiada, dia tak melupakan,
serentak dia sampai padamu
Mendapatimu bagaikan mendekati sesuatu
yang telah binasa dan gersang
 

Kusangka dia lupa akan janji larangan
dan dia tak puas dengan meninggalkan
tempat tinggal.
 

Hingga bila dia
bertemu dengan sasaran waktu turunnya,
jauh dari markas aslinya, dengan minum seteguk.
 

Maka bergantunglah padanya beban yang berat,
hingga beban itu tergantung
antara gunung-gunung dan sisa reruntuhan
gedung-gedung yang rata dengan tanah.
 

Dia menangis
bila ingat akan janji-janji larangan,
dengan cucuran air mata tak kunjung putus.
 

Dia berlindung sambil bersajak
di atas timbunan kotoran manusia
yang hilang dengan hembusan angin dari empat arah.
 

Di kata tali tebal mengikat, dan menahannya
sangkar tubuhnya
dari ketinggian yang luas yang menantinya.
 

Hingga perjalanan mendekati batas
dan yang berpergian telah berdekatan dengan alam luas
 

Dan telah siap untuk berpisah
dengan segala yang akan ditinggalkan,
bagaikan sampahnya debu yang tak bertebaran.
 

Maka dia bersajak, sedang tutup telah terbuka,
dia melihat apa yang tidak terlihat
oleh mata tidur di waktu malam.
 

Dia bersiul di atas puncak tertinggi
sedang ilmu menjunjung tinggi setiap orang yang tak
terjunjung.

Karena apakah dia turun
dari tempat tertinggi dan luhur,
ke dasar tanah rendah dikaki gunung ?
 

Jika yang menurunnya adalah Tuhan karena hikmah,
maka dia melipat sendirian,
asyik dan mengherankan.
 

Bila turunnya karena alasan yang tetap,
maka dia akan kembali dengan mendengar apa
yang belum pernah didengar,
 

Dia akan kembali mengetahui segala yang samar
dalam alam semesta,
tiada bodoh dia menembusnya.
 

Dia dipotong oleh masa menuju jalannya,
hingga setelah mati tak akan muncul lagi ?
 

Seakan-akan dia cahaya bersinar karena panas,
kemudian menjadi terlipat
seakan-akan tak bersinar lagi.
 
Karya: Ibnu Sina
Dikutip dlm Kitab “An-Najah”
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Mei 2010 in Budaya

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: