RSS

Trauma: Deteksi Dini & Penanganan Awal Di Realitas Sosial

31 Okt

A. Pengantar

Sepanjang sejarah kehidupan umat manusia dipermukaan bumi ini, seiring itu pula keberagaman persoalan muncul silih berganti seolah tidak pernah habis-habisnya, seperti konflik, kekerasan, pertumpahan darah, dsb. Itu belum lagi problematika alamiah seperti bencana alam; gempa bumi, tsunami, meletus gunung api, tanah longsor, banjir, badai topan, dsb. Keberagaman peristiwa dan pengalaman yang menakutkan tersebut, selain telah memporak-porandakan kondisi fisik lingkungan hidup, juga merusak ketahanan fungsi mental manusia yang mengalaminya, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam waktu yang singkat dan jangka panjang. Gambaran peristiwa dan pengalaman yang demikian dalam tela’ah psikologi dinamakan dengan trauma.

Berbedanya gejala trauma dalam realitas yang dihadapi manusia perlu ditangani secara bijak oleh berbagai pilot project, para ahli atau masyarakat secara utuh. Karena itu dengan terdeteksinya gejala-gejala awal dari suatu peristiwa trauma, maka akan memudahkan kita dalam upaya pemberian bantuan (konseling) secara baik dan kontinyu. Dalam melakukan konseling trauma, keberadaan konsep deteksi awal akan menjadi hal yang penting untuk dipahami dan diperhatikan oleh pemberi bantuan sehingga tergambar berbagai sifat atau jenis trauma yang diderita korban, seperti trauma ringan, sedang dan berat. Namun, tidak semua peristiwa atau pengalaman yang dialami manusia itu bermuara pada trauma. Biasanya kejadian dan pengalaman yang buruk, mengerikan, menakutkan atau mengancam keberadaan individu yang bersangkutan, maka kondisi ini akan berisiko memunculkan rasa trauma. Sementara, peristiwa dan pengalaman yang baik atau menyenangkan, orang tidak menganggap itu suatu kondisi yang trauma.

Kondisi trauma (traumatics) biasanya berawal dari keadaan stres yang mendalam dan berlanjut yang tidak dapat diatasi sendiri oleh individu yang mengalaminya. Stres adalah suatu respon/reaksi yang diterima individu dari rangsangan lingkungan sekitar, baik yang berupa keadaan, peristiwa maupun pengalaman–pengalaman, yang menjadi beban pikiran terus menerus dan pada akhirnya bermuara pada trauma. Untuk menanggulangi keberlanjutan trauma sejak kanak-kanak hingga dewasa, kiranya perlu segera dilakukan upaya deteksi dini. Sejauh mana trauma berkembang, bagaimana sifat atau jenisnya. Bila keadaan trauma dalam jangka panjang, maka itu merupakan suatu akumulasi dari peristiwa atau pengalaman yang buruk dan memilukan. Dan, konsekuensinya adalah akan menjadi suatu beban psikologis yang amat berat dan mempersulit proses penyesuaian diri seseorang, akan menghambat perkembangan emosi dan sosial individu (anak) dalam berbagai aplikasi perilaku dan sikap, seperti dalam hal proses belajar mengajar (pendidikan) atau pemenuhan kebutuhan-kebutuhan individu (anak) lainnya secara luas.

Pengetahuan sekilas itu diharapkan akan menjadi rujukan kita untuk melakukan konseling pasca trauma. Penanganan kasus traumatik sangat berbeda dengan kasus-kasus penyakit fisik biasa atau soal kesulitan belajar individu (anak). Penanganan kasus traumatik sangat diperlukan sejumlah profesional (orang) yang berkualifikasi, terlatih, atau berkepribadian yang baik. Demikian juga dalam hal penerapan metode dan pendekatan, harus berorientasi pada budaya, tradisi, tata nilai dan moralitas sosial penderita traumatik. Secara ringkas, tulisan ini akan memberi pemahaman dan gambaran kepada kita tentang belajar dan pembelajaran trauma; mulai dari konsep trauma, penyebab terjadinya trauma, jenis-jenis trauma hingga deteksi dini persoalan trauma dan metode penanga-nannya pasca trauma.

B. Pengertian, Penyebab dan Jenis2 Trauma

1. Pengertian Trauma

Dalam realitas kita sering mendengar atau mengucapkan istilah stres dan trauma. Kondisi kedua konteks ini diucapkan orang bilamana suatu persoalan yang kita hadapi terjadi berulang–ulang, beruntun dan membuat kita tidak berdaya dalam menyikapi, menghadapi dan mengatasinya. Stres secara umum dapat dipahami sebagai suatu reaksi atau tanggapan (fisik atau psikis) terhadap berbagai rangsangan yang datang dari luar diri manusia (lingkungan). Stres dapat berlangsung dalam jangka waktu singkat dan panjang. Stres dalam waktu singkat biasanya dapat diatasi dengan cara beristirahat, rileks, rekreasi atau berolahraga. Stres ini biasanya terjadi akibat kecapekan atau kelelahan secara fisik. Namun, bila stres itu berkepanjangan dan tidak dapat dikendalikan, tubuh dan jiwa tidak punya kesempatan untuk beristirahat, ini biasanya dikategorikan stres yang bersifat psikologis. Sebagai konsekuensinya adalah akan menimbulkan dampak negatif pada diri individu, seperti depresi, serangan jantung, sesak nafas, dsb. Kondisi stres yang berakibat fatal bagi individu (merugikan dan menyakiti) disebut distress (stres buruk), sedangkan stres yang menyenangkan, memotivasi semangat hidup, meningkatkan etos kerja, meningkatkan gairah, kreativitas dan prestasi belajar/kerja dinamakan eustress (stres baik).

Sedangkan trauma merupakan reaksi fisik dan psikis yang bersifat stress buruk akibat suatu peristiwa, kejadian atau pengalaman spontanitas/secara mendadak (tiba-tiba), yang membuat individu mengejutkan, kaget, menakutkan, shock, tidak sadarkan diri, dsb –yang tidak mudah hilang begitu saja dalam ingatan manusia. James Drever (1987) mengatakan trauma adalah setiap luka, kesakitan atau shock yang terjadi pada fisik dan mental individu –yang berakibat timbulnya gangguan serius. Sarwono (1996), melihat trauma sebagai pengalaman yang tiba-tiba, mengejutkan dan meninggalkan bekas (kesan) yang mendalam pada jiwa seseorang yang mengalaminya. Dari dua pendapat ini,  dapat dianalisis bahwa trauma merupakan suatu kondisi yang tidak menyenangkan atau buruk yang datang secara spontanitas dan merusak seluruh sendi/fungsi pertahanan kejiwaan individu, sehingga membuat individu tidak berdaya dalam mengendalikan dirinya.

2. Penyebab terjadinya Trauma

Secara umum, kondisi trauma yang dialami individu (anak) disebabkan oleh berbagai situasi dan kondisi, di antaranya:

  1. Peristiwa atau kejadian alamiah (bencana alam), seperti gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, angin topan, dsb.
  2. Pengalaman dikehidupan sosial ini (psiko-sosial), seperti pola asuh yang salah, ketidak adilan, penyiksaan (secara fisik atau psikis), teror, kekerasan, perang, dsb.
  3. Pengalaman langsung atau tidak langsung, seperti melihat sendiri, mengalami sendiri (langsung) dan pengalaman orang lain (tidak langsung), dsb.

3. Jenis & Sifat Trauma

Dalam kajian psikologi dikenal beberapa jenis trauma sesuai dengan penyebab dan sifat terjadinya trauma, yaitu trauma psikologis, trauma neurosis, trauma psikosis, dan trauma diseases.

1.  Trauma Psikologis:

Trauma ini adalah akibat dari suatu peristiwa atau pengalaman yang luar biasa, yang terjadi secara spontan (mendadak) pada diri individu tanpa berkemampuan untuk mengontrolnya (loss control and loss helpness) dan merusak fungsi ketahanan mental individu secara umum. Ekses dari jenis trauma ini dapat menyerang individu secara menyeluruh (fisik dan psikis).

2.  Trauma Neurosis:

Trauma ini merupakan suatu gangguan yang terjadi pada saraf pusat (otak) individu, akibat benturan-benturan benda keras atau pemukulan di kepala. Implikasinya, kondisi otak individu mengalami pendarahan, iritasi, dsb. Penderita trauma ini biasanya saat terjadi tidak sadarkan diri, hilang kesadaran, dsb. ––yang sifatnya sementara.

3.  Trauma Psychosis:

Trauma psikosis merupakan suatu gangguan yang bersumber dari kondisi atau problema fisik individu, seperti cacat tubuh, amputasi salah satu anggota tubuh, dsb. ––yang menimbulkan shock dan gangguan emosi. Pada saat-saat tertentu gangguan kejiwaan ini biasanya terjadi akibat bayang-bayang pikiran terhadap pengalaman/ peristiwa yang pernah dialaminya, yang memicu timbulnya histeris atau fobia.

4.  Trauma Diseases:

Gangguan kejiwaan jenis ini oleh para ahli ilmu jiwa dan medis dianggap sebagai suatu penyakit yang bersumber dari stimulus-stimulus luar yang dialami individu secara spontan atau berulang-ulang, seperti keracunan, terjadi pemukulan, teror, ancaman, dsb.

Sementara itu, kondisi trauma (traumatic) yang dialami orang (anak, remaja dan dewasa), juga mempunyai sifatnya masing-masing sesuai dengan pengalaman, peristiwa atau kejadian yang menyebabkan rasa trauma, yaitu ada trauma yang bersifat ringan, sedang/menengah dan trauma berat. Kondisi trauma yang ringan, biasanya perkembangannya tidak berlarut-larut, mudah diatasi dan hanya dalam batas waktu tertentu saja serta penanganannya tidak membutuhkan waktu lama, demikian pula halnya dengan kondisi trauma yang bersifat sedang atau menengah. Namun, jika keadaan trauma yang dialami individu bersifat berat, ini biasanya agak sulit ditangani dan membutuhkan waktu yang lama dalam penyembuhan. Adapun konseling yang akan diterapkan dalam kasus ini adalah harus dilakukan secara kontinyu, penuh kesabaran, penuh keikhlasan dan betul-betul ada kesadaran dari para profesional (orang-orang yang terlatih) untuk menanganinya secara baik.

C. Deteksi Dini & Upaya Penanganannya

Adalah suatu hal penting yang harus diperhatikan secara komprehensif oleh semua pihak yang terlibat dalam pemberian bantuan pada penderita traumatik bahwa upaya deteksi (teropong, observasi, analisis dan pemahaman) terhadap kasus, masalah atau penyakit secara mendalam merupakan kunci utama dari keberhasilan penanganannya (terapi atau konselingnya).

Bagaimana proses awal terjadinya trauma dan sejauh mana kondisi traumatik menyerang individu? Konteks ini, kiranya akan memudahkan kita dalam hal pencarian solusi akhir untuk mengembalikan kondisi normal bagi penderita ganguan kejiwaan secara bertahap dan berkesinambungan.

Berikut ini adalah beberapa cara atau langkah awal yang perlu diperhatikan dalam rangka diagnosis awal sebagai upaya penanganannya (terapi) selanjutnya:

1. Planning

Konsep ini merupakan pemikiran dasar dalam rangka menjalankan tugas secara menyeluruh. Tanpa planning yang tepat, kesulitan akan segera menghadang. Dengan adanya planning, maka segala sesuatu yang dibutuhkan dalam aplikasi kerja akan berjalan dengan baik dan terfokus.

2. Action

Setelah perencanaan yang matang, maka langkah kerja selanjutnya adalah aksinya (perbuatan). Dalam aksi, segala hal/masalah yang hendak dianalisis atau dikaji akan menjadi terorganisasi, sistematis dan terintegrasi, sehingga memperjelas metode, pendekatan dan upaya problem solving (pemecahan masalah).

3. Controlling:

Konsep ini menjadi penting karena apabila terjadi kekeliruan metode, pendekatan dan konsep sebagaimana yang telah direncanakan dan diaplikasikan dilapangan maka dapat dikontrol, dan memungkinkan konselor untuk mengubah cara-cara lain yang sesuai dengan bobot masalah

4. Evaluation:

Kegunaan konsep evaluasi adalah untuk melihat sejauhmana proses perkembangan kesembuhan traumatik yang diderita oleh individu dalam upaya pemberian bantuan, apakah dilanjutkan atau dihentikan (bila dianggap sudah normal).

Ringkasnya, teknik ini akan memudahkan konselor, guru, dokter, dsb. dalam upaya diagnosis awal (deteksi dini) dimulai bagi penderita traumatik. Kemudian baru dilanjutkan dengan tahap penyembuhan (penanganan). Pada tahap penanganan awal terhadap penderita traumatik, ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh konselor, guru, dokter, ulama, tokoh agama, tokoh adat, dsb., diantaranya:

1. Direct Techniqe Aplication

  • Pemberian bantuan langsung; chek kesehatan, materi, dll.
  • Di sini konselor, guru, dokter, tokoh agama, tokoh adat, dsb. diharapkan harus terlibat langsung mengadakan penanganan korban trauma.
  • Bagaimana proses penyesuaian diri, interaksi, komunikasi dan sikap para petugas akan sangat menentukan berhasil tidaknya pemberian bantuan penyembuhan. Pola kepribadian petugas adalah kunci utama dalam penanganan koran trauma.
  • Dengan teknik langsung ini, metode self help group akan menjadi efektif, kohesif dan kreatif, dsb.

2. FGD Techniqe Aplication:

  • Terapi model ini akan menghasilkan suasana kebersamaan, satu rasa dan satu tujuan kelompok.
  • Akan terbentuk persepsi diri dan persepsi sosial secara baik bagi penderita trauma
  • Akan terbentuk konsep diri secara baik bagi penderita trauma
  • Dengan teknik ini akan memungkinkan dilakukan usaha kearah pengembangan dan pemberdayaan ketrampilan dalam berbagai bentuk; karya wisata, kegiatan perlombaan, life skill, dsb.

Merujuk pada model penanganan tersebut, yang lebih para pemberi bantuan terhadap korban trauma mampu menjabarkan empati secara proporsional dan profesional, sehingga penanganan yang dilakukan dapat memberi hasil maksimal.

 
7 Komentar

Ditulis oleh pada 31 Oktober 2010 in Diskusi, Kajian, Opini

 

Tag: , , ,

7 responses to “Trauma: Deteksi Dini & Penanganan Awal Di Realitas Sosial

  1. Eska

    18 Maret 2011 at 14:58

    Teroma kasih ini artikel sangat membantu saya,, trims ya?

     
  2. Baracuda

    11 Oktober 2012 at 17:37

    Nice article!!🙂
    saya memang sedang mencari tulisan untuk permasalahan ini.

     
  3. vinny

    3 Desember 2012 at 12:22

    terimakash untuk artikelnya, sy sedang mencari solusi mengenai permasalahan ttg trauma,,,

     
  4. nur sofiyah

    29 April 2013 at 07:16

    pendapat ini di dasarkan pada sumber apa?

     
  5. destiana ludiwati

    12 Juni 2013 at 00:06

    saya ingin artikel lebih didetailkan ttg teknis penaggulangan trauma dan bagaimana mencari tau apa awal terjadinya pemicu terjadinya trauma

     
  6. linda

    24 Januari 2014 at 13:13

    terima kasih saya sedang membutuhkan ini sekarang buat tugas kulian🙂

     
  7. ANA YASMINE

    3 Mei 2016 at 14:15

    ALHAMDULILLAH………..SEMOGA BAROKAH DAN BERMANFAAF.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: