RSS

Musibah & Bencana Alam Sebuah Refleksi Kehidupan

06 Nov

Ketika kita menyaksikan peristiwa demi peristiwa atau bahkan kita alami sendiri peristiwa demi peristiwa dalam realitas ini, sudah pasti membuat kita sedih, iba, ciut, ketakutan dan tidak berdaya. Melihat realitas saat ini, kita jangan lupa melirik historikal kehidupan. Wacana ini penting untuk menganalisis sejumlah gejala alam. Peristiwa masa lalu dalam sejarah selalu berkolerasi dengan masa sekarang. Namun yang berbeda adalah goresan dan cuplikan waktu, ruang dan tempat. Demikian pula dengan musibah demi musibah dan bencana alam demi bencana alam seolah saling berlomba dengan waktu yang tersisa dan silih berganti dalam lingkup, bentuk, jenis atau wajah yang beragam.

Musibah dalam realitas sosial dimengerti sebagai suatu kondisi yang tidak menyenangkan. Dalam istilah bahasa arab, musibah berasal dari kata ashaba, yang berarti suatu keadaan yang mengenai seseorang, baik sesuatu yang menyenangkan maupun sesuatu yang tidak menyenangkan. Misalnya, kehilangan dompet, kemalingan, perampokan, kecelakan lalu lintas, meninggal anggota keluarga atau orang yang dicintai, kebakaran ruko, di PHK, anjloknya karier, dan lain-lain. Di sisi lain, ketika seseorang mendapat promosi jabatan baru, kenaikan pangkat, bertambah kaya, atau selalu diidolakan orang (panutan), dsb. –juga dimaknai sebagai “musibah” oleh orang-orang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT karena tanggung jawab terhadap apa yang dimilikinya itu bertambah besar.

Sementara bencana alam, merupakan fenomena alamiah yang menampilkan diri dalam bentuk amukan yang ganas. Menurut kamus wikipedia, bencana alam adalah konsekuensi dari kombinasi aktivitas alami (suatu peristiwa fisik, seperti letusan gunung, gempa bumi, tanah longsor) dan aktivitas manusia. Contoh bencana alam, diantaranya; banjir bandang, letusan gunung, gempa bumi, tsunami, angin topan, badai salju, dan tanah longsor. Sedangkan kebakaran hutan, meluapnya tinja lapindo atau maraknya aliran sesat melalui hipnotis bukanlah bencana alam, namun peristiwa ini diakibatkan oleh ulah manusia yang tidak bertanggung jawab.

Merunut fenomena semacam ini, sesungguhnya manusia semakin menyadari bahwa usia dunia ini sudah tua, umur dunia ini tidak panjang lagi atau realitas sosial hampir berakhir.  Musibah dan bencana alam silih berganti dan terlihat dimana-mana di dunia. Sebut saja di negeri ini yang masih segar dalam ingatan adalah gempa bumi dan tsunami di Aceh dan Nias, tanah longsor di Jawa Barat, gempa bumi di Sumatra Barat, dan yang terbaru  adalah banjir Wasior Papua, muntahan asap panas dan letusan gunung merapi Jogja, tsunami Mentawai –yang memakan korban jiwa ratusan ribu orang atau bahkan jutaan, kehingan harta benda dan menghancurkan sejumlah bangunan di permukiman penduduk, serta memporak-porandakan sejumlah sarana infrastruktur lainnya.

Namun apa dikata, memang musibah dan bencana tidak bisa diprediksikan kapan datang dan berakhir. Yang pasti musibah dan bencana selalu mengintai realitas ini tanpa mengenal waktu dan ruang. Yang bisa kita sekarang adalah bagaimana kita dapat mempersiapkan diri secara mantap dengan cara meningkatkan dan mempertebal keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 6 November 2010 in Berita, Opini, Tafakkur

 

Tag: , , ,

One response to “Musibah & Bencana Alam Sebuah Refleksi Kehidupan

  1. Daniel Wantik

    13 Desember 2010 at 20:15

    Musibah & Bencana Alam Sebuah Refleksi Kehidupan kita apakah kesalahan kita ataukah dari siapa? inilah menjadi pertanyaan buat kita semua maka itu marilah kita belajar dari musibah tersebut.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: