RSS

Gaya Hidup & Gejala Superiotas Complex

01 Apr

Problematika hidup manusia dalam realitas cenderung selalu bersifat sosial, dimana setiap orang beragam kepentingan dan kebutuhan untuk dipenuhinya. Menurut Adler, Fungsi yang sehat bukan hanya mencintai dan bekerja, melainkan merasakan kebersamaan dengan orang lain dan mempedulikan kesehjateraan mereka. Untuk menguatkan teorinya, Adler mengemukakan beberapa argumen penting, antara lain:

  1. Setiap orang berjuang untuk mencapai superioritas atau kompetensi personal
  2. Setiap orang mengembangkan gaya hidup dan rencana hidup yang sebagian disadari atau direncanakan dan sebagian tidak disadari. Gaya hidup seseorang mengindikasikan pendekatan yang konsisten pada banyak situasi. Sedangkan rencana hidup dikembangkan berdasarkan pilihan seseorang dan mengarah pada tujuan yang diperjuangkan seseorang untuk dicapainya.
  3. Kualitas kepribadian yang sehat adalah kapasitas untuk mencapai “fellow feeling” atau Gemeinschaftgefuhli, yang fokus pada kesehjateraan orang lain (minat sosial).
  4. Ego merupakan bagian dari jiwa yang kreatif. Menciptakan realitas baru melalui proses menyusun tujuan dan membawanya pada suatu hasil, disebut dengan fictional goals.

Karena itu, melalui konsep gaya hidup, Adler menjelaskan keunikan manusia. Setiap manusia memiliki tujuan, perasaan inferior, berjuang menjadi superior dan dapat mewarnai atau tidak mewarnai usaha mencapai superioritasnya itu dengan minat sosial. Akan tetapi, setiap manusia melakukannya dengan cara yang berbeda. Gaya hidup merupakan cara unik dari setiap orang dalam mencapai tujuan khusus yang telah ditentukan dalam lingkungan hidup tertentu, di tempat orang tersebut berada. Gaya hidup berdasarkan atas makna yang seseorang berikan mengenai kehidupannya atau interpretasi unik seseorang mengenai inferioritasnya, setiap orang akan mengatur kehidupannya masing-masing unuk mencapai tujuan akhirnya dan mereka berjuang untuk mencapai hal tersebut.

Dalam kasus Selly, Pakar Psikologi Forensik, Reza Indragiri, mengatakan bahwa Selly,  pelaku penipuan di beberapa kota, memiliki kemampuan manipulatif. “Ia tahu persis bagaimana mengeksploitasi korbannya”.  Reza mengakui Selly punya tingkat kecerdasan tinggi. “Terlihat dari bagaimana dia menjawab pertanyaan,” kata Reza. Begitu terdesak ia memanipulasi psikologi lawan bicaranya. Reza menyebutnya sebagai irony victimitation. Dengan cara ini orang pun berubah persepsi atas dirinya. Ia seolah menjadi korban, bukan pelaku. Namun, sosoknya seperti menyembunyikan sesuatu. Ia memiliki apa yang disebut dalam dunia psikologi sebagai superiority complex. Tujuannya, kata Reza, untuk menutupi kekurangannya. Motif penipuan Selly bukan uang. Menurut Reza keinginan dia untuk berkuasa dan diakui orang lain lebih menonjol. “Ia tidak memilih-milih korban,” Reza menjelaskan analisanya. Kaya atau miskin di mata Selly sama. Begitu ada peluang, ia menjalankan aksinya. Selly pernah terjerat kasus penipuan di wilayah hukum Polda Metro Jaya. Laporan dengan nama Selly Yustiawati sebagai terlapor terekam dalam berkas bernomor LP 2952/K/VIII/2006/SPK 3. Laporan dibuat tertanggal 3 Agustus itu dibuat pada tahun 2006. Saat itu, kasusnya dilimpahkan ke Polres Jakarta Selatan. Tapi pengusutannya tidak tuntas, meski Selly sempat jalani pemeriksaan. Dia  pun dibebaskan saat itu (Republika. co.id/30/03/2011).

Inferioriy dan Superiority manusia dimotivasi oleh adanya dorongan utama, untuk mengatasi perasaan inferior dan menjadi superior. Dengan demikian perilaku manusia dapat dijelaskan berdasarkan tujuan dan ekspentasi akan masa depan. Inferioritas berarti merasa lemah dan tidak memiliki keterampilan untuk menghadapi tugas atau keadaan yang harus diselesaikan dalam realitas hidup. Hal ini tidak berarti rendah diri terhadap orang lain dalam pengertian yang umum, meskipun ada unsur membandingkan kemampuan diri dengan kemampuan orang lain yang lebih matang dan berpengalaman. Sedangkan superiority bukan berarti lebih baik dibandingkan dengan orang lain, melainkan secara berkelanjutan mencoba untuk menjadi lebih baik, untuk menjadi semakin dekat dengan tujuan ideal seseorang.  Beberapa keadaan khusus seperti dimanja dan ditolak, mungkin dapat membuat seseorang mengembangkan sikap inferiority complex atau superiority complex. Dua aspek ini sangat berhubungan erat. Superiority complex selalu menyembunyikan atau bentuk kompensasi dari inferior. Sedangkan inferiority complex menyembunyikan perasaan superior. Adler meyakini bahwa motif utama setiap orang adalah untuk menjadi kuat, kompeten, berprestasi dan kreatif.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 April 2011 in Opini

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: