RSS

Renungan Tahun Baru Masehi Bagi GenerasiI Muda Islam

01 Jan

Setiap datangnya pergantian tahun di berbagai belahan dunia, termasuk di nusantara selalu dilakukan penyambutan tahun baru dengan berbagai hiburan; pesta kembang api yang spektakuer, live music 24 jam, berliburan ke berbagai tempat wisata, dll. Apa makna tahun baru bagi masyarakat yang merayakannya? Sangat sulit dijelaskan secara detil karena jawabannya pasti beragam, namun ada juga yang menjawab “tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata”, dll. Mengapa tahun baru masehi sangat populer dikalangan muda-mudi seluruh dunia? Ini boleh jadi sangat sulit lagi diberi penjelasan ilmiah, karena para generasi muda banyak yang tidak mengetahui asal-usul sejarah dimulainya penetapan awal tahun baru masehi. Jika ditilik historikal, maka sejak abad ke-7 SM bangsa Romawi kuno telah memiliki kalender tradisional. Namun kalender ini sangat kacau dan mengalami beberapa kali perubahan. Sistem kalendar ini dibuat berdasarkan pengamatan terhadap munculnya bulan dan matahari, dan menempatkan bulan Martius (Maret) sebagai awal tahunnya. Pada tahun 45 SM `Kaisar Julius Caesar mengganti kalender tradisional ini dengan Kalender Julian. Urutan bulan menjadi: 1) Januarius, 2) Februarius, 3) Martius, 4) Aprilis, 5) Maius, 6) Iunius, 7) Quintilis, 8) Sextilis, 9) September, 10) October, 11) November, 12) December. Di tahun 44 SM, Julius Caesar mengubah nama bulan “Quintilis” dengan namanya, yaitu “Julius” (Juli). Sementara pengganti Julius Caesar, yaitu Kaisar Augustus, mengganti nama bulan “Sextilis” dengan nama bulan “Agustus”. Sehingga setelah Junius, masuk Julius, kemudian Agustus. Kalender Julian ini kemudian digunakan secara resmi di seluruh Eropa hingga tahun 1582 M ketika muncul Kalender Gregorian. Januarius (Januari) dipilih sebagai bulan pertama, karena dua alasan. Pertama, diambil dari nama dewa Romawi “Janus” yaitu dewa bermuka dua ini, satu muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang. Dewa Janus adalah dewa penjaga gerbang Olympus. Sehingga diartikan sebagai gerbang menuju tahun yang baru. Kedua, karena 1 Januari jatuh pada puncak musim dingin. Di saat itu biasanya pemilihan konsul diadakan, karena semua aktivitas umumnya libur. Di bulan Februari konsul yang terpilih dapat diberkati dalam upacara menyambut musim semi yang artinya menyambut hal yang baru. Sejak saat itu Tahun Baru orang Romawi tidak lagi dirayakan pada 1 Maret, tapi pada 1 Januari. Tahun Baru 1 Januari pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Orang Romawi merayakan Tahun Baru dengan cara saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci. Belakangan, mereka saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar Dewa Janus. Mereka juga mempersembahkan hadiah kepada kaisar. Dengan sejarah “kelahiran tahun baru” tersebut, diharapkan muda-mudi (khususnya generasi muda Islam) dapat menafsirkan makna atau simbol-simbol tahun baru masehi dalam realitas kehidupannya, sehingga acara hura-hura yang sia-sia dan tidak bermanfaat dapat menjadi standar hidupnya. Firman Allah SWT dalam surah al-Furqan ayat 72, berbunyi yang artinya: “Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila merekaertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” Berdasarkan arti ayat ini, generasi muda Islam dapat mengintrospeksikan diri akan perayaan tahun baru yang dijalaninya selama ini. Apakah konteks tahun baru masehi berkaitan dengan dirinya atau bertentangan dengan kesadaran yang ada dalam dirinya. Wallahu’alam.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 1 Januari 2012 in Diskusi, Kajian, Opini, Tafakkur

 

Tag:

One response to “Renungan Tahun Baru Masehi Bagi GenerasiI Muda Islam

  1. M Arbain Arizandy

    3 Januari 2012 at 14:49

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: