RSS

Realitas Perilaku Politikus…….

20 Feb

Sahabat, mengikuti perkembangan politik Indonesia saat ini sama artinya dengan memaknai perilaku para politikus. Politikus tak lain adalah para pelaku politik dalam kancah realitas kehidupan berbangsa dan bernegara. Atmosfer politik Indonesia saat ini, menjelang Pemilu 2014 jika disimak secara seksama, setiap orang memberi kesimpulan yang berbeda-beda, namun cenderung negatif. Lihat saja kasus M.Nazaruddin mantan bendahara Partai Demokrat yang overlaping,yang secara  psikologi politik sebetulnya juga sudah ‘hancur’ di mata publik pemilih. Kondisi itu diperkuat lagi oleh pemberitaan media yang tidak henti-hentinya selama setahun terakhir ini. Setelah Nazaruddin ditangkap oleh pihak imigrasi Columbia, dan kemudian dijemput pulang oleh Tim KPK Indonesia telah memberi berita-berita yang merongrong kewibabaan Partai Demokrat di mata publik akibat kasus wisma atlet yang terindikasi fikti trilyunan rupiah. Hal ini cukup berbeda dengan sepak terjang para politikus Golkar jaman Pak Harto. Praktek korupsi jaman Pak Harto cukup tertata rapi dan bahkan hampir merata mulai dari akar rumput (pejabat kelurahan/ kecamatan), pucuk coklat (bupati/walikota, kepala dinas) sampai ke pucuk kelapa (gubernur, menteri, presiden dan DPR). Lagi pula pada masa itu belum dikenal istilah KPK (komisi Pemberantasan Korupsi). Di sadari atau tidak secara politis Indonesia di bawah kepemimpinan Pak Harto laksana Negeri Antah Brantah alias Negeri Sinsalabin bagai cerita dongeng, siapa yang kuat dia yang dapat, siapa yan lemah dia yang melarat. Tidak ada cerita tentang pencuri uang rakyat. Setelah diterpa badai krisis moneter dan porak-poranda ekonomi Indonesia dalam berbagai sektor dengan di PHK-nya ratusan ribu orang dari pekerjaannya, baru terasa bahwa Indonesia termasuk negara terkorup di Asia.

Pasca lengsernya, Pak Harto kemudian menjamurlah sejumlah partai politik di bumi nusantara ini, seolah tidak bisa dibendung dan tidak ada aturan hukum berapa idealnya jumlah partai politik yang sehat dalam suatu negara. Orang awam seperti saya, saat itu menduga-duga bahwa orang-orang yang mendirikan partai politik pasca runtuhnya Orde Baru adalah orang-orang stress karena telah terdepak dari arena Orde Baru. Hingga terbentuknya pemerintahan transisi, di bawah Habibie, Gus Dur dan Megawati. Keadaan belum begitu berubah, yang terbaca adalah banyak politikus tarumatis masa Pak Harto yang ingin bangkit dalam kesempatan transisi dengan cara berkoar-koar (vocal) yang seolah-olah memihak kepada rakyat. selain politikus lama, juga ada sejumlah pemain politik baru yang bersuara lantang untuk mendapat simpati rakyat di masa transisi tiga tersebut. Istilahnya, para politikus dan para pemain baru itu pandai melihat celah untuk bermain di air keruh alias menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Bukannya memikirkan bagaimana kondisi penderitaan rakyat selama puluhan tahun.

Tak pelak lagi, menjamurlah beragam nama partai politik di Indonesia, termasuk Partai Demokrat, Golkar yang menamakan diri partai, PDI yang menganggap diri Partai Perjuangan, dan lain sebagainya hingga 34 buah partai lahir. Munculnya sejumlah partai politik dalam jumlah banyak pada hakikatnya, bukan memperbaik suasana bangsa ini, akan tetapi “kembali” membuka peluang kehancuran moral para anak bangsa. Orang mendirikan partai politik, sesungguhnya adalah mencari duit dan pekerjaan, tidak perduli halal haram. Uang panas atau uang dingin. Sangatlah bersyukur petani, peternak atau pedagang yang mendapatkan duit yang dingin dari hasil kerja keras. Jika dilihat dari persentase pelaku politik di Indonesia adalah hampir 70% pelaku politik di DPRD dan DPR RI atau yang berkeliaran di luar DPRD dan DPR RI mereka adalah para intelektual dari beragam disiplin. Sebanyak 25%  lainnya berasal dari dari kalangan pengusaha, artis, pelaku pasar, praktisi atau LSM. Sedang 5% lagi adalah lulusan SMA/Sederajat.

Carut marutnya politik Indonesia saat ini tidak terlepas dari gejala “sakit hati” akibat tidak semua partai politik mendapatkan jatah kursi di tingkat DPRD atau DPR RI. Logikanya, setelah para caleg menghabiskan banyak duit waktu kampanye, tapi nihil hasilnya. Ya ada yang masuk RS Jiwa di daerah pemilihannya atau di Jakarta. Sebagian lainnya yang tidak terserang penyakit saraf, mulai membentuk oposisi yang dalam istilah mereka menyebut diri sebagai pengawas kandidat yang terpilih. Padahal sesungguhnya, oposisi itu kelompok yang tidak menguntung pemerintah, karean secara politis mereka merongrong wibawa pemerintah secara halus dari luar. Dan jika sudah meretas atau mencuat suatu kasus; kasus Century, Wisma Atlet, Teroris, dan lain sebagainya. Mereka akan bertepuk tangan sambil menari-nari tanda kemenangan secara psikologis dan politik. Artinya, keberadaan oposisi dalam suatu negara hanya mencari celah keburukan pemerintah, kemudian menghantam pemerintah. Realitas di Indonesia begitu adanya. Kondisi diperparah lagi oleh para pengamat politik yang sering tidak fair (memihak) dalam menganalisis isu-isu politik, sosial dan ekonomi yang berkembang. Indikasinya, untuk membuktikan benar tidaknya isu-isu yang mencuat muncul beragam ide atau gagasan, bahkan riset untuk membenarkan isu yang telah dikembangkan.

Review kita sahabat, bukan menciptakan masalah baru, akan tetapi melirik kembali sejumlah pemberitahan televisi, laporan surat kabar atau media online lainnya, dsb. mengenai deskripsi perilaku para politikus bangsa ini. Apakah sejauh ini mereka dengan partainya memiliki prioritas yang ikhlas untuk kepentingan rakyat, membantu pemerintah berkuasa bersama-sama membangun bangsa, menciptakan kondisi damai dalam masyarakat, merekatkan persatuan dan kesatuan. Atau dengan sejumlah pemberitan=an media, review kita akan melukiskan pengalaman buruk akibat sejumlah perilaku para politikus bahwa keberadaan mereka hanya terfokus pada uang, kepentingan kelompoknya, menguatkan posisi diri, menciptakan citra diri, mengamankan posisi keluarga. Dengan review demikian, kita yang awam nantinya tidak akan tergoda dengan politik. Meskipun tawaran ke arah itu terbuka lebar. Politik dalam bahasa arab, diistilahkan sebagai siyasah, yang bisa diartikan sebagai taktik atau cara menacapai tujuan. Hanya saja, tujuan yang dicapai politik tidak mengenal kawan, lawan atau siapapun yang penting tujuan individu aau kelompok tercapai..it’s oke. Lihat saja bagaimana lakon politik yang dimainkan oleh para politikus di negeri kita. Para politikus di negeri kita pada umumnya, muka lama dalam kenderaan partai baru. Perilaku yang muncul juga perilaku lama yang tidak berubah, kecuali sudah tewas. kemudian lihat saja bagaimana arah politik yang dimainkan oleh kaum Israeliyat, Amerika, Eropah dan para sekutu mereka. Tak henti-hentinya mereka menciptakan suasana yang tidak tenang atau suasana kerusakan di muka bumi ini, terutama terhadap negara-negara Islam dengan tanpa memperdulikan jargon-jargon HAM yang telah mereka ciptakan, tanpa mengindahkan suara-suara masyarakat bangsa-bangsa (PBB). SK.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 Februari 2012 in Diskusi, Kajian, Opini

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: