RSS

Malu Dalam Diskursus Realitas Manusia

22 Feb

Istilah “malu” sering kali kita dengar atau kita ucapkan dalam realitas sehari-hari. “Malu bertanya akan jalan-jalan”. “Malu belajar akan  putus harapan”. “Malu berkarya akan ketinggalan”. “Malu bekerja akan kelaparan”.  Konteks malu, bukan hal baru dalam ingatan orang. Malu bisa dimaknai sebagai perilaku mencolok, berlebihan, over, tidak selaras dengan nilai moral yang dipahami dan dianut oleh hati manusia. Malu adalah sikap mengedepankan nilai ke-fitrahan yang dimiliki manusia. Malu adalah perilaku yang mengutamakan fitrah kemanusiaan manusia dalam meretas hidup ini. Setiap orang paham akan arti malu, namun dalam realitas tidak sedikit orang mengabaikan malu dalam gerak gerik, tindakan atau perbuatannya. Mengapa ini bisa terjadi? Untuk melihat kasus malu ini, saya mengajak pembaca untuk melihat kembali (review) tingkah laku manusia di ranah kehidupan ini, baik sebagai tingkah laku pribadi, sosial atau bangsa. Dalam realitas kita temuin, misalnya seseorang ketika mengenakan pakaiannya, bersolek atau merapikan diri. Kemudian bercermin dan beraksi ala model dengan memperhatikan diri, dan dalam hatinya muncul beragam rasa; rasa puas, bahagia, bangga atau sebaliknya merasa tidak enak, tidak pede, salah tingkah. Itu adalah hak azasi anda dalam menjalaninya. Namun dalam kasus ini, tersirat konteks malu dan tidak malu.

Di realitas sosial kita sering ditemuin banyak orang yang berbicara “asbun” (asal bunyi), gede’ rasa, omongan besar, bergaya, egois atau tidak sesuai dengan eksistensi dirinya. Namun tidak sedikit orang berkata apa adanya, jujur, sesuai fakta dan realitas, jelas sumber, atau pendiam. Kasus ini dalam realitas telah mengenai siapa saja; anak-anak, remaja, orang dewasa atau orang tua. Ekspresi ‘asbun” dan berkata sesungguhnya, juga mengandung konteks malu dan tidak malu. Dalam berbangsa dan bernegara, kita sering saksikan para pemimpin, mulai dari tingkat kepala desa, camat, kepala dinas, bupati/walikota, gubernur, anggota DPR sampai presiden kadang berbicara sangat pasti, seolah-olah besok langsung diterapkan. Namun realitas menunjukkan sering para pemimpin tidak tepat janji, tidak ada realisasi atau jauh panggang dari api. Isu pasti yang keluar dari mulut pemimpin/pejabat tak lebih sebagai lipstik belaka. Peraturan oke, praktenya tidak diindahkan oleh pembuat peraturan.., bekerja hanya semata-mata mengejar bayaran gede’, sedang nilai-nilai moral tidak tampak. Dalam realitas pernyataan para pemimpin sering tumpang tindih. Misanya saja, pejabat A mengatakan begina, pejabat B mengatakan begana. Dalam realitas ketika rakyat membuat KTP ke kantor keluarahan atau kantor camat, jika mengikuti peraturan membuat KTP, bisa tidak selesai-selesai dalam waktu lama, walaupun dalam prosedur ada pasal bagi warga itu KTP gratis, dan siap dalam satu dua hari saja. Nyatanya yang gratis selalu berbulan-bulan.

Praktek-praktek menipu, berbohong, ambisius, tidak tepat janji, tidak perduli, acuh tak acuh (cuek) dan menghalalkan segala cara, juga sering dtemuin di realitas ini. Lihat saja, ketika sesorang atau sebagian orang kepingin mencalonkan diri sebagai pemimpin daerah/negara, caleg atau calon pimpinan di suatu lembaga tertentu. Setelah ambisinya tersalurkan (terpilih) jadi pimpinan, tak ayal lagi sang kandidat tidak mengenal warga pemilihnya. Soal janji-janji yang dikampanyekan dulu, sudah tidak ingat lagi. Model manusia macam ini memiliki moto hidup kurang lebih, “gua mau kaya, mau menguasai..emang gua pikirin lo, lo…lo, gua…gua”. Lebih-lebih lagi, yang dipersepsikan sebagai lawan-lawan “politiknya” atau pesaingnya, sudah tidak ada cerita lagi untuk berkembang. Siap-siap saja mati karir atau istilah birokrasinya dibangku panjangkan tidak ada jabatan lagi meski super jenius. Seandainya berpas-pasan ketemu tanpa disadari, paling-paling senyuman dalam arti “sakit gigi” alias nyengir saja ditambah dengan basa basi yang dibingkai dalam sindiran dan penghinaan halus oleh sang kandidat terpilih.

Itu adalah gambaran perilaku orang-orang yang tidak memiliki rasa malu (muka tembok). Jika begitu model kehidupan yang dipraktekkan sebagian orang, dimanakah letak makna dari budaya malu?. Jawabannya, tidak mengerti, yang mengerti adalah sikat dan sikut lagi ada kesempatan. Padahal hakikat malu mencerminkan sikap yang akan memotivasi seseorang untuk meninggalkan keburukan (kebiasaan buruk) dan mencegah sikap menyia-nyiakan hak pemiliknya. Karena itu, jika anda melihat perilaku orang, keinginan atau perkataan orang dalam realitas ini, biasanya pikiran anda akan mampu membaca isi hatinya. Orang-orang yang memahami makna malu adalah orang-orang yang mengenal akan dirinya. Orang-orang yang menerapkan malu adalah orang-orang berakhlak mulia dan bertakwa. Orang-orang yang memiliki rasa malu adalah orang yang menjaga kehormatan dan kesuciannya.

Sebaliknya, orang-orang yang tidak pernah merasa malu adalah orang-orang yang tidak mengenal dirinya, bermuka tembok dan berhati batu. Orang-orang seperti ini biasanya hidup dengan gerakan egoisme yang luar biasa. Orang-orang yang tidak memiliki malu, biasanya tidak pernah introspeksi diri, tidak pernah mau mendengarkan orang lain, sering darah tinggi, suka mengatain orang apa saja yang keluar dari mulut busuknya. Orang yang tidak punya malu, tidak pernah juga mengenal makna perbuatan,tingkah laku dan sikapnya sebagai cerminan akhlak dan keimanannya. Refleksi ini hanya sekedar review yang pernah anda lihat, rasakan, disaksikan dalam realitas kehidupan anda dan kita semua. Buah dari orang yang tidak punya rasa malu adalah tidak henti-hentinya memunculkan perbuatan kriminalitas; pelecehan seksual, prostitusi, pesta shabu/miras, pencurian, korupsi dan perbuatan anti sosial lainnya. SK

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22 Februari 2012 in Diskusi, Kajian, Tafakkur

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: