RSS

Psikologi Kepemimpinan Preman di Tempat Kerja

09 Mar

Ketika anda, saya dan kita semua melihat keramaian, yg kadang tampak biasa-biasa saja dan kadang tampak agak unik dan luar biasa. Halmana, juga ketika kita mendengar suara bising kenalpot berbagai jenis kendaraan, yang dipermak dengan kondisi hiruk pikuknya realitas kehidupan kota -di waktu pagi, siang dan malam hari- dengan berbagai warna ativitas dan model perilaku yg dilakonkan orang dalam keramaian. Terkadang kita diam tak mampu berkata apa, sulit memahami apa yg sesungguhnya terjadi di depan kita. Kadang juga terbesit dalam benak kita,”oh beginilah realita hidup” ini -orang pada sibuk dg segala aktivitasnya masing-masing demi sesuap nasi dan sekeping rupiah.

Di lain waktu, kita juga temui betapa pilunya tindakan, perangai, perilaku dan perbuatan orang yg tidak perduli dg keberadaan orang lain di realitas, sehingga dg enaknya dia melabrak, mencopet atau mengusir sebagian orang yg sedang mencari sesuai nasi dan sekeping rupiah.Kondisi serupa juga kita saksikan di tempat rutinitas aktivitas kita (perkantoran, lembaga pendidikan, instansi pemerintah atau perusahaan, dll), bahwa kita temuin tampilan sikap, perangai, perilaku atau tindakan pimpinan yg berjiwa mafia dan bermental abusive (mental yang suka menyakiti orang lain, tidak hanya secara fisik, tapi juga secara psikis dalam berbagai kesempatan, baik bersifat verbal maupun non verbal) yg dengan semena-mena melampiaskan amarah syaitannya, membentak, menghardik, darah tinggi, mencak-mencak dan mencari-cari kesalahan orang yang dipimpinnya. Situasi bertambah gawat darurat ketika sipemimpin itu bercermin, sambil lenggak lenggok dengan gaya mafia dan gaya premannya, seolah-olah kehidupan orang lain dialah yg menentukan saat dia jadi “preman” (baca;kepala kantor, sedang berkuasa), sebagaimana dia menentukan, menggonta-ganti dan mengacak-ngacak pekerjaan administrasi yg telah dengan capek-capek dikerjakan oleh bawahannya. Bawahan hanyalah sebagai simbol belaka, tidak ada kompromi dan sharing untuk kemajuan lembaga, instasi, dll. Jika pun ada, itu hanya bersifat seremoni saja untuk bisa cair anggaran, tidak lebih dari itu. Demikian juga dari sisi penghargaan prestasi kerja bawahan, tidak pernah ada penilaian positif dari sang pimpinan yang bermental preman itu, yang ada hanyalah kerja keras dan jika perlu lembur untuk kepentingan penguatan posisi sang pimpinan.
Dalam realitas juga ditemui kasus; ketika orang mengurus sesuatu keperluan di kantor desa/kelurahan, kecamatan, dinas, atau instansi-instansi pemerintah lainnya. Ketika kita perhatikan orang yang baru keluar dari kantor-kantor tersebut, terlihat wajah yg tidak ceria, menampilkan ekspresi kekecewaan dan bermuka murung. Entah apa yg dialami orang itu, wallahu ‘alam. Namun yg pasti, apa yg diharapkan tidak sesuai dg harapan. Dalam kata lain, impian tidak segera terwujud pada saat yg diperlukan, namum bisa jadi tertunda atau tidak muncul jadi kenyataan sama sekali karena tindakan dan perbuatan penguasa kantor, lembaga atau perusahaan yg tidak “ngeh”, tidak peruli atau tidak peka dengan keluhan, kebutuhan dan kepentingan orang lain.
Pertanyaan sekarang, seberapa sadarkah orang-orang yang sok berkuasa dengan mental preman akan menyadari bahwa dirinya sebetulnya siapa? Seberapa jauhkah orang bermental preman yang sok berkuasa mengetahui akan eksistensi diri sebagai makhluk individual dan sosial? Dua pertanyaan ini jika diajukan kepada pimpinan yang bermental preman tidak pernah ada jawaban, walau sekalipun nyawa melayang seketika darinya. Mengapa hal ini bisa terjadi karena seorang peminpin yang berjiwa preman itu hidup dan berkembangnya hanya digerakkan oleh id dan ego, sedangkan super ego selalu diabaikan. Id berjalan sesuai dengan keinginan tanpa perduli apakah baik dan buruk, yang penting hantam kromo dan tersalurkan, titik. Sedangkan ego berjalan sesuai dengan realitas dihadapannya dengan siasat siapa yang kuat itu yang pemenang, jadi untuk mampu bertahan hidup harus kuat walau otaknya beku secara akademis dan emosional. Sementara super ego berjalan sesuai dengan kata hati nurani yg berorientasi pada nilai-nilai dan moralitas.(SK)
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Maret 2012 in Diskusi, Kajian, Opini

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: