RSS

Mengkonstruksikan Jiwa Agama Anak

21 Jun

Perkembangan jiwa agama seseorang pada umumnya ditentukan oleh pendidikan, pengasuhan, pengalaman atau latihan-latihan yang dilaluinya sejak kecil hingga dewasa.

Menurut Zakiyah Daradjat, “semakin banyak pengalaman agamis yang dilalui anak diwaktu kecil, maka akan semakin banyak unsur keagamaan yang berubah secara kejiwaan dalam diri anak dikemudian hari. Segala sikap, tindakan, perilaku atau cara menghadapi hidup akan sesuai dan selalu berpijak pada ajaran agamanya”

Oleh karena itu, keluarga (orang tua) harus menyadari dan memahami bahwa proses perkembangan jiwa agama anak di kehidupan ini tidak berhenti sampai di rumah saja, akan tetapi jauh lebih panjang lagi, yaitu lingkungan sekolah dan masyarakat.

Secara operasional, ada sejumlah cara yang dapat diterapkan oleh para orang tua dalam menumbuh-kembangkan jiwa agama pada anak-anaknya sehingga mengkonstruksikan pengalaman religiusitas anak dikehidupan nyata ketika mereka beranjak remaja dan dewasa, diantaranya:

1. Memantapkan akidah ketauhidan yang sempurna pada anak
2. Memantapkan pegangan hidup anak hanya pada Allah semata
3. Menggambarkan arti hidup di dunia dan arti hidup di akhirat yang sesungguhnya.
4. Mengajarkan ajaran agama pada anak dengan ikhlas dan sungguh-sungguh
5. Menanamkan sikap hidup yang sederhana dan sikap tawakkal selalu kepada Allah.
6. Menanamkan perilaku agar selalu berusaha, beramal dan berdo’a yang semata-mata mengharap kasih sayang dan pertolongan Allah SWT.

Melirik konteks di atas, maka dalam upaya penumbuhan religiusitas dan semangat hidup (optimisme) keagamaan pribadi muslim sejak dini sehingga nilai-nilai ajaran agama akan masuk dalam diri anak bersamaan dengan segi pertumbuhan dan perkembangan usianya.

Di sisi lain, proses pembentukan jiwa agama anak yang diajarkan seyogyanya harus bisa mengarah pada pengembangan aspek kepribadian anak secara utuh, baik segi perkembangan kognitif, afeksi maupun psikomotor anak. Karena ketiga aspek ini merupakan aspek operasional dasar pembentukan karakter manusia.

Namun, jika orang tua dan guru agama tidak mempertimbangkan ketiga aspek kepribadian di atas maka akan menjadi tidak berguna sama sekali pengajaran yang diberikan, karena si anak tidak dapat memaknai dan merasakan secara nyata, abstrak dan emosional apa hakikat (subtansi) pengetahuan yang dipelajarinya, yang dapat membangkitkan semangat hidup secara rutin dalam kehidupannya. [SW]

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 21 Juni 2012 in Kajian, Opini, Sains

 

Tag: , ,

2 responses to “Mengkonstruksikan Jiwa Agama Anak

  1. keyword 2

    15 September 2012 at 05:43

    I’ve read several good stuff here. Definitely worth bookmarking for revisiting.
    I surprise how much effort you put to make such a great informative site.

     
  2. Discover More

    3 April 2013 at 04:06

    Thanks for the several tips contributed on this site. I have realized that many insurance
    companies offer shoppers generous special discounts
    if they choose to insure a couple of cars with them.
    A significant number of households currently have several cars these days, in particular
    those with more aged teenage kids still residing at home, as well as savings for policies might soon begin.
    So it pays to look for a good deal.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: