RSS

Menyoal Ambisi Mengejar Kekuasaan

31 Agu

Dalam realitas sosial teridentifikasi bahwa hampir setiap orang memiliki keinginan untuk menjadi number one. Parahnya lagi orang yang berambisi besar untuk jadi pimpinan itu hampir tidak pernah melakukan penilaian dan introspeksi terhadap diri atau kemampuan diri; apakah mampu diri mampu menjadi pemimpin, apakah diri memiliki jiwa pemimpin, apakah diri mampu memanajemen diri dan orang lain, dan lain sebagainya.

Terlepas dari logika di atas, terbukti di realitas banyak orang yang memaksakan diri menjadi pemimpin pada suatu lembaga/isntansi publik –baik pada lembaga pendidikan maupun birokrasi. Sementara jiwa kepemimpinan yang dimiliki orang bersangkutan tidak lebih sebagai mental mafia atau kelompok geng minum kopi. Kondisi ini bisa dianalisis dari sejumlah model kepemimpinan yang ketika sudah jadi penguasa tidak mampu memimpin, rekonsiliasi atau menyatukan seluruh komponen anak bangsa, karyawan atau bawahannya. Yang disukai jadi prioritas dan yang dibenci jadi tumbal dan kambinghitam dalam segala kebijakannya, sungguh dramatis dan memilukan.

Bilamana orang-orang model ini dipilih dan terpilih sebagai pemimpin, sudah bisa dianalisis sejumlah indikator negatif yang dihasilkan ketika kekuasaannya berlangsung. Misalnya, saat aturan dibuat –tanpa disadari dia sendiri lebih dahulu yang melanggarnya, namun bagi wilayah atau lembaga yang dipimpinnya harus diterapkan secara ketat. Terkait konteks ini, maka virus kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN) semakin memberi angin segar dan hidup bahagia selama kepemimpinannya.

Demikian pula, dalam setiap keputusan dan kebijakan publik yang dibuatnya selalu berbenturan dengan situasi lingkungan, kebutuhan rakyat atau lembaga dan landasan teori pijakan. Dari hasil amatan terhadap tokoh-tokoh dunia, bisa diterangkan bahwa pemimpin yang tidak bisa memimpin acapkali menyalahkan segenap isi lembaga, lingkungan atau rakyat yang dipimpinnya. Sehingga ketika menyelesaikan suatu masalah atau solusi dia hanya menggunakan resep adiluhung mafianya secara membabi buta, sporadis, kasar dan arogan tanpa dianalisis dan mendalami duduk persoalan atau kasus yang mengandung kerancuan.

Terkadang juga si bos sangat tidak logis dalam menyikapi dan menilai anak buahnya, dan bahkan dengan lihai dan  sengaja berusaha mempolitisir kondisi untuk menyalahkan kinerja dan kepribadian bawahannya. Padahal sesungguhnya sang pimpinan ngiler ini berkeinginan yang amat sangat untuk menyingkirkan anak buahnya secara sistematis selama kekuasaannya. Indikasi dari perilaku agresivitas sang si bos ini, banyak orang yang tersingkir dari jabatannya. Entah karena tidak disenangi, berbeda pandangan politik, hembusan angin setan atau karena akibat kebodohan si bos itu sendiri yang sok tahu segalanya sehingga tidak mampu sama sekali memahami kualifikasi, kelebihan dan kemampuan anak buahnya. Yang tampak dimata dan pikiranya adalah kekurangan dan kesalahan anak buahnya.

Dalam realitas ciri-ciri pemimpin yang bodoh, seperti alergi terhadap kritik, suka marah-marah, suka menghasut, tidak berwibawa, berbicara ceplas-ceplos, kebijakan yang dibuat suka dilanggar sendiri, tidak konsisten, tidak pernah instrospeksi diri, tidak pernah menerima masukan atau pendapat orang lain, suka membangga-banggakan diri, suka melihat keburukan orang lain, dan lain-lain. Selain itu, si bos yang bertipe ‘ngiler’ ini juga tidak menyadari batas akhir kekuasaannya sehingga selagi berkuasa dia selalu menuai bencana bagi setiap anak buahnya dalam berbagai modus operandi, baik dari cari komunikasinya, interaksinya atau juga perbuatannya yang kerap menyakiti rakyat dan anak buahnya.

Sangat disayangkan tipe pimpinan yang tidak mampu memahami diri, orang lain dan lingkungannya. Sebab apa yang diperbuat, lambat laun akan mengenai dirinya. Inilah yang disebut dengan hukum karma. Hukum karma akan berlaku selagi manusia hidup. Bila seseorang menyakiti orang lain secara sengaja dan sadar, tinggal tunggu balasannya akan disakiti orang suatu saat. Padahal jika sang pimpinan cerdas dan cerdik dalam memahami kondisi psikologis karyawaanya, barangkali tidak terjadi perlakuan ‘kasar’ seperti itu. Inilah gejala pimpinan bodoh yang tidak tahu bagaimana memimpin, namun egonya menggebu-gebu ingin berkuasa melebihi kapasitas dirinya. Akibatnya, segala cacian, carut marut atau kicauan tak sedap di luar sana menjadi menu utama tiap hari tidak disadarinya.

Benar bak kata pepatah lama, “pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna”. Hanya pemimpin yang berjiwa memimpinlah yang mampu memaknai dan memahami kondisi realitas kepemimpinannya. Untuk memaknai ini biasanya ada pada seseorang yang berjiwa ikhlas, pintar dan cerdas. Namun, jika seorang yang memaksakan diri untuk menjadi pemimpin, jangan harap mereka mampu memahami diri sebagai pemimpin, yang ada adalah balas dendam kepada orang-orang yang dianggap lawan politik. Wallahu’alam…..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 31 Agustus 2012 in Budaya, Diskusi, Opini

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: