RSS

Fenomena Pencitraan Diri di Realitas

03 Feb

Cermin diriPenampilan diri secara umum dapat dikatakan bagian penting yang hendak digapai oleh seseorang dalam realitas hidupnya. Gejala ini biasanya dipandang sebagai fenomena pencitraan diri. Citra diri (Self Image) adalah gambaran tentang diri kita sendiri atau bagaimana kita menggambarkan diri kita sendiri.

Menurut Pattricia Patton, citra diri adalah refleksi apa yang kita lihat dalam diri sendiri. Apa yang kita lihat secara internal sering kali kemudian kita transfer secara eksternal melalui sikap, tingkah laku, dan keputusan kita.

Orang berusaha tampil di media cetak atau elektronik dengan gaya tertentu. Orang berupaya tampil melalui berbagai tulisan/artikel ilmiah. Orang juga selalu ingin menampilkan diri secara baik dan terhormat dilingkungan sosial tempat tinggalnya, sehingga orang berupaya memodifikasi perilakunya secara apik dan baik.

Dalam berbagai segmen kehidupan dan profesi yang dilakoni orang, fenomena pencitraan diri ini selalu dipraktikkan orang demi sebuah penghormatan dan penghargaan. Usaha pencitraan diri yang dilakukan orang dalam kehidupannya sebetulnya hanya sekedar memberi tahu pada khalayak bahwa dirinya itu perlu dipertimbangkan.

Gejala pencitraan diri yang diupayakan orang dalam hidupnya adalah suatu peristiwa mental yang wajar. Hal ini berpijak pada teori kebutuhan yang dikemukakan Maslow, bahwa individu dalam hidupanya berupaya untuk memenuhi kebutuhan demi kebutuhan, yang salah satunya adalah kebutuhan akan penghargaan dan hormat dari lingkungan sosialnya.

Namun dalam realitas, terkadang orang membangun citra diri dengan cara-cara yang tidak normal. Katakanlah dalam suatu lembaga atau di tempat bekerja, seringkali terbaca upaya pencitraan diri yang dilakukan seseorang tidaklah etis. Biasanya upaya pencitraan diri model ini dibangun melalui isyu-isyu bohong, tidak bersumber atau sikap tidak menyukai. Dalam tahapan berikutnya, orang mulai mempresentasikan dirinya sebagai orang serba bisa dengan berbagai argumentasinya.

Wacana-wacana pencitraan diri dengan model ini, sesungguhnya hanyalah lipstik belaka demi membenarkan diri, menjagokan diri atau menampilkan diri sebagai pahlawan dengan harapan lawan bicara bisa menganggapnya orang hebat, cerdas dan mempuni.

Jika gaya pencitraan diri ini dipraktekkan, dimunculkan atau dikembangkan dalam realitas pekerjaannya atau dilingkungan bermainnya. Di sadari atau tidak akan berimplikasi pada mosi tak percaya, sikap, persepsi atau analisis negatif terhadap orang yang sedang membangun citra dirinya.

Karenanya, self image building tersebut pada dasarnya sangat bertautan erat dengan teori self konsep dan the looking glass-self . Meskipun kita berupaya untuk berperilaku sebagaimana yang diharapkan oleh orang  lain, diri kita tidak pernah bisa memenuhi secara total pengharapan diri dan orang lain tersebut.

Akan tetapi ketika kita berinteraksi dengan mereka, penghargaan mereka dan kesan mereka tentang diri kita dipengaruhi oleh konsep diri kita. Citra diri (self image)  berangkat dari asumsi yang kita bangun tentang diri kita, berdasarkan konsep inilah proses internalisasi diri dimulai (memainkan peran sosial) dalam wujud perilaku.

Apalagi jika pencitraan diri dibangun dengan cara-cara menafsirkan hasil kerja orang lain secara negatif atau menjelek-jelekkan orang lain dari sejak pertama menduduki jabatan hingga ajal tiba adalah perbuatan sia-sia karena lingkungan sosial atau publik disekeliling kita bukanlah boneka atau robot tetapi manusia yang memiliki pikiran, rasa, dan kebutuhan untuk berkembang dan maju. Semoga bermanfaat [SA]

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 3 Februari 2013 in Diskusi, Opini, Tafakkur

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: