RSS

Perbuatan Manusia Dalam Terminologi Iman Al Ghazali

30 Mar

amarahDalam tinjauan filsafat, kajian tentang manusia lebih dominan tentang kebebasan, dimana perilaku manusia dikaji dari efektivitasnya. Anggapan terhadap konteks ini memiliki akar pada konsepsi esensi manusia dan daya-daya yang dipunyainya. Jika manusia mempunyai esensi dengan daya-daya yang efektif pada dirinya, maka manusia dengan sendirinya adalah pelaku terhadap perbuatan-perbuatannya.Sebaliknya bila manusia tidak memiliki daya-daya yang efektif pada dirinya, maka perilaku-perilakunya itu tidak berasal dari dirinya. Perilaku-perilaku itu adalah hasil dari determinasi kekuatan-kekuatan lain dari luar dirinya. Jadi manusia dalam kondisi ini dianggap sebagai tempat berlakunya kekuatan-kekuatan dari luar.

Menurut Al Ghazali, perbuatan (perilaku) merupakan bagian dari gerak. Jika gerak dikaitkan dengan manusia, maka gerak itu akan dapat dibedakan atas; gerak yang disadari (al iradiyyat) dan gerak yang tidak disadari (at thabi’). Gerak yang tidak disadari berkembang mengikuti perintah sunnatullah semata.

Menarik untuk dianalisis adalah gerak yang disadari, karena berkaitan dengan proses tertentu di dalam jiwa dan berhubungan dengan pengungkapan diri. Perbuatan yang disadari, dalam filsafat juga sering disebut perbuatan bebas (ikhtiyaari). Menurut Al Ghazali, gerak ini terjadi setelah melalui tiga tahap peristiwa dalam diri manusia, yaitu; pengetahuan, kemauan dan kemampuan.

Dari ketiga tahap tersebut, yang lebih dekat dengan penampilan perbuatan manusia adalah kemampuan. Kemampuan adalah daya penggerak dari jiwa sensitif, yaitu makna yang tersimpan dalam otot-otot. Jiwa ini dipandang sebagai momen terakhir yang secara langsung terlibat dalam perwujudan perilaku (perbuatan).

Fungsi dari daya ini pada hakikatnya menggerakkkan tubuh. Bentuk gerakan tubuh sangat ditentukan oleh kemamuan; yang menguntungkan atau merugikan. Sementara pengetahuan dan kemauan adalah proses yang mengikuti aspek kemampuan dalam berbuat atau berperilaku. Daya mengetahui mempunyai kekuasaan yang lebih besar daripada kemamuan, akan tetapi memiliki hubungan yang jauh dengan perbuatan sehingga yang berperan secara langsung dengan perbuatan adalah kemauan dan kemampuan.

Sepintas, proses terciptanya perilaku ini memperlihatkan efektivitas manusia. Melalui kemauan manusia memiliki kebebasan dan melalui kemampuan manusia bisa menggapai makna pada dirinya untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Model analisis inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya.

Namun dalam praktiknya, manusia juga ada beda dengan makhluk lain ketika melakoni perbuatan-perbuatan iblisnya, hingga menyesengsarakan orang lain karena sebab sikap; senang-tidak senang atau suka-tidak suka yang digerakkan oleh sebab prasangka dan kecurigaan. Akibatnya melekatlah fenomena sentimentil dan rasa kebencian yang mendalam terhadap orang-orang yang dianggap rivalitasnya.

Karena itu jangan heran bilamana anda dan kita semua melihat beragam variasi perbuatan manusia, misalnya upaya mendholimi orang lain sepanjang hidupnya, diskriminasi, pembunuhan karakter dan lain sebagainya. Gejala perbuatan semacam ini pada hakikatnya digerakkan oleh nafsu serakah bukan karena akal sehat dan hati nurani, sehingga dalam realitas banyak ditemukan kasus-kasus ini dipelbagai segmen kehidupan, terutama dalam aktivitas pekerjaan atau praktik politik balas dendam. [sk]

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30 Maret 2013 in Diskusi, Kajian

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: